Against Forgetting

Just another WordPress.com weblog

Sepenggal Kisah Kota Tua di Guangdong

with 13 comments

Lelaki itu muncul begitu saja dari lorong kecil di sisi kanan jalan saat saya baru saja usai menekan shutter. Di depan saya, sebuah rumah yang pintunya setengah terbuka. Di dalamnya, menempel pada dinding, sebuah kalender bergambar seorang berseragam tentara dengan tangan kanan terangkat ke udara.

Laki-laki itu berjalan mendekat. Melongok ingin tahu pada apa yang barusan menarik perhatian saya. Lalu ia mulai nyerocos dalam bahasa setempat. Saya tak paham. Namun sepertinya ia tak marah. Raut wajahnya tak menunjukkan hal itu. Bahkan lebih cenderung bersahabat. Buru-buru saya tarik kawan seperjalanan yang paham bahasa setempat.

“Dia bilang, ia orang hebat,” ujar kawan saya menunjuk gambar di kalender yang barusan saya bidik, menerjemahkan ucapan  lelaki itu.

Mao Tse Tung, sosok berseragam tentara yang gambarnya barusan saya bidik itu, ternyata masih punya tempat di hati rakyat China, setidaknya di Jiangmen, kota kabupaten yang merupakan bagian dari provinsi Guangdong.

Akhir Oktober lalu, saya datang ke Jiangmen bersama rombongan Indografer-Hong Kong, klub fotografer Indonesia yang tinggal di Hong Kong. Ada sejumlah tempat yang kami kunjungi, termasuk kampung Haiyan yang banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa asal Indonesia; diaolou atau rumah-rumah benteng di kawasan Majianlong yang dibangun pada masa Dinasti Qing untuk berlindung dari serangan perampok; bangunan tua di kota Chikan yang sering disewa untuk shooting film silat Hong Kong; serta rumah taman Li Garden yang telah dihibahkan pemiliknya kepada pemerintah dan kini bisa dibuka untuk publik. Tiga tempat terakhir tersebut terletak di kawasan Kaiping.

Sayangnya, entah mengapa, saya tak banyak mengambil foto di tiga lokasi terakhir. Ramainya turis  yang berkunjung ke kawasan itu dan objek bidik yang telah demikian popular di laman maya membuat saya “mati gaya”.

Sementara di Haiyan, kedatangan kami yang bersamaan dengan matahari tenggelam, membuat suasana pedesaan dan wajah-wajah antusias para penghuni kampung tersebut tak dapat ditangkap kamera saya dengan baik.

Namun justru kisah yang saya dengar di Haiyan, tentang Mao yang meletakkan pondasi bagi pembangunan China modern; tentang pemerintah yang tak lupa membagi kesejahteraan saat ekonomi mulai membaik; tentang petani yang mendapatkan uang pensiun;  membuat saya tertarik menekan shutter di hari terakhir kunjungan kami, saat rombongan turun di jalanan kota tua Jiangmen.

Aura kota tua Jiangmen seperti menarik saya pada masa yang detilnya hanya bisa saya temukan di buku-buku sejarah tentang China karya Edgar Snow atau Han Suyin.

Saat menyaksikan sejoli tergelak di jalan, pedagang pisang yang menolak uang pemberian tambahan, perempuan-perempuan bertopi lebar, dan bocah yang melirik malu-malu dari balik dinding batu, saya memutuskan untuk kembali.

Dua pekan kemudian, saya kembali ke  provinsi Guangdong. Tapi tidak ke Jiangmen. Saya memilih Dapeng. Sebuah kota tua yang berjarak sekitar 55 kilometer dari Shenzhen.

Seorang kawan yang bolak-balik mengunjungi tempat ini mengusulkan perjalanan dengan bus dari Kowloon Tong menuju Nan Ao dibanding melalui jalur Lowu.

Untuk perjalanan berangkat tersebut, saya hanya perlu merogoh kocek HK$60 untuk jalur tempuh satu jam perjalanan. Sementara untuk sampai ke Dapeng Fortress, kota benteng  berumur 600 tahun yang dibangun pada era Opium War,  saya masih harus ganti bus dua kali lagi dari Nan Ao. Namun rentang waktu perjalanan tak lama, 15 menit untuk masing-masing bus tersebut dengan ongkos 2 yuan. Dan begitu sampai di Dapeng Fortress, aura yang saya rasakan saat menginjak kota tua Jiangmen kembali muncul.

Pada September 1839, sejarah mencatat, lima armada laut Inggris menyerang pasukan pertahanan Dapeng di perairan lepas Kowloon. Tentara China, dengan menggunakan kapal ikan, yang dipimpin Lai Enjue (Zhenwei), dikalahkan musuh yang memiliki armada lebih canggih. Pertempuran di perairan Kowloon tersebut kemudian dikenal luas sebagai pemicu awal Opium War.

Tak lama setelah pertempuran itu meletus, Lai dipromosikan untuk menjadi komandan angkatan laut Guangdong. Di tahun 1844, sebuah rumah besar berukuran 2500 meter persegi dibangun dan di papan yang yang ditaruh di atas gerbang rumah tersebut ditorehkan kalimat: “Rumah Jenderal Zhenwei”.

Rumah tersebut hingga kini masih bisa dilihat utuh di dalam kota benteng dan menjadi daya tarik utama wisatawan yang berkunjung di area ini.

Waktu seperti berhenti di sini. Hanya segelintir orang yang masih mendiami rumah di dalam benteng. Sementara yang lain, memilih berada di luar, membuka toko kelontong yang mengingatkan saya pada deretan warung di kota-kota kecamatan Indonesia di tahun 1980-an, lusuh dan tak terawat. Sementara penjualnya sibuk bermain kartu mahjong dengan tetangga.

Di Jiangmen dan Dapeng, saya memang tak melihat pijar meteor ekonomi China, seperti yang diulas oleh majalah ekonomi dalam dan luar negeri tentang lompatan yang berhasil dibuat negeri tirai bambu tersebut. Namun kepercayaan penduduk tentang pemimpin yang bijak membagi roti, membuat saya takjub.

Ketakjuban yang berlanjut dengan rasa sentimental saat saya menemukan seorang pesepeda jarak jauh bermata sipit mengenakan kaos bertuliskan Jakarta muncul begitu saja di pintu gerbang saat saya hendak meninggalkan lokasi.

Namun kemudian saya mesti menelan kecewa ketika tahu bahwa ia belum pernah ke Indonesia dan sama sekali tak mengenal Jakarta.

Dimuat di Exposure Magazine, Edisi 19, Februari 2010

Advertisements

Written by frsusanti

February 7, 2010 at 1:22 pm

Posted in Travel Story

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.




  1. Ini keren banget!

    Igor Firdauzi

    February 7, 2010 at 4:34 pm

  2. dan maaf, atas komen yang terbata-bata ini,
    tulisan dan fotonya bagus sekali

    Igor Firdauzi

    February 7, 2010 at 4:51 pm

    • matur nuwun Bung Igor. Terimakasih sudah berkenan singgah dan membacanya.

      frsusanti

      February 8, 2010 at 8:05 am

  3. Ah….(maaf cuma bisa komen itu-speechless)

    ryo

    February 8, 2010 at 6:49 pm

    • wah, padahal aku pengin dapat masukan..:(

      frsusanti

      February 9, 2010 at 7:03 pm

  4. huhuuuu suka banget,..udah aku unduh, tinggal ditandatangani ajah ;))

    Karina

    February 9, 2010 at 10:31 am

    • hahaha…, mesti naek meja di HK dulu…:D

      frsusanti

      February 9, 2010 at 7:04 pm

  5. jadi kapan kite ke hongkong..
    :-“

    Hopy

    February 9, 2010 at 8:22 pm

  6. moment yang diabadikan benar2 luar biasa.

    www.lombokwedding.com

    March 27, 2010 at 8:38 am

  7. I sort of found your web site by mistake, but your web site caught attention and I thought that I might post to show you that I enjoy it.

    Bevis

    September 14, 2011 at 11:26 pm

    • thanks Bevis..:)

      frsusanti

      December 11, 2011 at 4:05 pm

  8. Saya kebetulan membaca artikel ini. Waktu yg cukup terlambat. Tetapi, sebuah cerita dan gambar yg membuat saya meneteskan air mata. Ketika saya ingin mengenal China, dan banyak versi, maka yg ini yg membuat saya jatuh cinta.

    Salam kenal.

    ida

    April 2, 2015 at 4:47 pm

    • terima kasih telah membacanya. Semoga menginspirasi. salam kenal juga.

      frsusanti

      April 9, 2015 at 10:50 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: