Against Forgetting

Just another WordPress.com weblog

Hidup Tak Hanya dari Roti

leave a comment »

MUSIM dingin di Vatikan, akhir November 2012. Krisis ekonomi yang menghajar Eropa seperti tak terasa di Roma. Para peziarah tetap mendatangi Basilika Santo Petrus dan Museum Vatikan.

VATICAN PEMBUKA#1

VATICAN#2

VATICAN#3

VATICAN#4

VATICAN#5

 

Barangkali benar, hidup tak hanya dari roti, karena jiwa juga minta diisi. Di Vatikan, para peziarah mendialogkan hati, di antara Pieta dan makam Santo Petrus, dalam ketakjuban menatap the last supper yang dilukis di atas kain di dinding museum dan the last judgment yang digurat Michelangelo di langit-langit Sistine Chapel.

VATICAN#8

VATICAN#7-1

VATICAN#10

Dalam audiensi mingguan dengan ribuan peziarah, Paus Benediktus XVI bicara tentang esensi manusia setelah rudal menghajar Tepi Gaza.  Solidaritas manusia, pada akhirnya, tak bisa berhenti pada komunitas sendiri, atas nama etnis, agama, maupun golongan. Vatikan tanpa ragu memproklamirkan bahwa setiap manusia, imam atau awam, beriman atau tidak beriman, memikul tanggung jawab kemanusiaan yang sama.

VATICAN#6

VATICAN PENUTUP#11

 

Written by frsusanti

February 20, 2013 at 2:59 pm

Posted in Travel Story

Tagged with ,

Bocah-bocah Pengungsi Merapi

with 2 comments

Merapi meletus. Lahar panas dan hujan pasir mengubur rumah ibu dan bapak mereka. Juga sawah dan ladang tempat mereka bermain, serta sekolah yang merangkum ceria mereka dengan kawan seusia.

Berjejal di Balai Desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Minggu 31 Oktober sore itu, mereka mungkin masih bisa berbagi ceria. Namun entah esok hari, ketika hari berganti minggu, dan masih juga belum ada tempat bernama “rumah”, tempat mereka pulang. Tempat kasih sayang ibu-bapak, juga kakek-nenek tercurah pasti, tanpa khawatir ketokan di pintu meminta evakuasi.

Bocah-bocah pengungsi Merapi, moga tragedi usai terjadi. Agar gelak tak punya tempo berhenti dan kalian bisa berucap pasti: “Kami pulang ke rumah sendiri.”

Desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Magelang, 31 Oktober 2010,

sehari setelah Yogyakarta diguyur hujan abu.

Written by frsusanti

November 3, 2010 at 9:37 am

Posted in Uncategorized

Memories of Hong Kong

with 5 comments

Before I say goodbye, let me save memories of you. Your rush, your ignorance, and your loneliness. Someday if the flatness hit me hard in my country, let my mind fly to you for a while, just a while. Because how beautiful you are, you never can change “her” position. She has always had my heart, wherever I go and whatever I do. And for her, I should say goodbye to you…

Written by frsusanti

June 4, 2010 at 4:47 pm

Posted in Uncategorized

Sepenggal Kisah Kota Tua di Guangdong

with 13 comments

Lelaki itu muncul begitu saja dari lorong kecil di sisi kanan jalan saat saya baru saja usai menekan shutter. Di depan saya, sebuah rumah yang pintunya setengah terbuka. Di dalamnya, menempel pada dinding, sebuah kalender bergambar seorang berseragam tentara dengan tangan kanan terangkat ke udara.

Laki-laki itu berjalan mendekat. Melongok ingin tahu pada apa yang barusan menarik perhatian saya. Lalu ia mulai nyerocos dalam bahasa setempat. Saya tak paham. Namun sepertinya ia tak marah. Raut wajahnya tak menunjukkan hal itu. Bahkan lebih cenderung bersahabat. Buru-buru saya tarik kawan seperjalanan yang paham bahasa setempat.

“Dia bilang, ia orang hebat,” ujar kawan saya menunjuk gambar di kalender yang barusan saya bidik, menerjemahkan ucapan  lelaki itu.

Mao Tse Tung, sosok berseragam tentara yang gambarnya barusan saya bidik itu, ternyata masih punya tempat di hati rakyat China, setidaknya di Jiangmen, kota kabupaten yang merupakan bagian dari provinsi Guangdong.

Akhir Oktober lalu, saya datang ke Jiangmen bersama rombongan Indografer-Hong Kong, klub fotografer Indonesia yang tinggal di Hong Kong. Ada sejumlah tempat yang kami kunjungi, termasuk kampung Haiyan yang banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa asal Indonesia; diaolou atau rumah-rumah benteng di kawasan Majianlong yang dibangun pada masa Dinasti Qing untuk berlindung dari serangan perampok; bangunan tua di kota Chikan yang sering disewa untuk shooting film silat Hong Kong; serta rumah taman Li Garden yang telah dihibahkan pemiliknya kepada pemerintah dan kini bisa dibuka untuk publik. Tiga tempat terakhir tersebut terletak di kawasan Kaiping.

Sayangnya, entah mengapa, saya tak banyak mengambil foto di tiga lokasi terakhir. Ramainya turis  yang berkunjung ke kawasan itu dan objek bidik yang telah demikian popular di laman maya membuat saya “mati gaya”.

Sementara di Haiyan, kedatangan kami yang bersamaan dengan matahari tenggelam, membuat suasana pedesaan dan wajah-wajah antusias para penghuni kampung tersebut tak dapat ditangkap kamera saya dengan baik.

Namun justru kisah yang saya dengar di Haiyan, tentang Mao yang meletakkan pondasi bagi pembangunan China modern; tentang pemerintah yang tak lupa membagi kesejahteraan saat ekonomi mulai membaik; tentang petani yang mendapatkan uang pensiun;  membuat saya tertarik menekan shutter di hari terakhir kunjungan kami, saat rombongan turun di jalanan kota tua Jiangmen.

Aura kota tua Jiangmen seperti menarik saya pada masa yang detilnya hanya bisa saya temukan di buku-buku sejarah tentang China karya Edgar Snow atau Han Suyin.

Saat menyaksikan sejoli tergelak di jalan, pedagang pisang yang menolak uang pemberian tambahan, perempuan-perempuan bertopi lebar, dan bocah yang melirik malu-malu dari balik dinding batu, saya memutuskan untuk kembali.

Dua pekan kemudian, saya kembali ke  provinsi Guangdong. Tapi tidak ke Jiangmen. Saya memilih Dapeng. Sebuah kota tua yang berjarak sekitar 55 kilometer dari Shenzhen.

Seorang kawan yang bolak-balik mengunjungi tempat ini mengusulkan perjalanan dengan bus dari Kowloon Tong menuju Nan Ao dibanding melalui jalur Lowu.

Untuk perjalanan berangkat tersebut, saya hanya perlu merogoh kocek HK$60 untuk jalur tempuh satu jam perjalanan. Sementara untuk sampai ke Dapeng Fortress, kota benteng  berumur 600 tahun yang dibangun pada era Opium War,  saya masih harus ganti bus dua kali lagi dari Nan Ao. Namun rentang waktu perjalanan tak lama, 15 menit untuk masing-masing bus tersebut dengan ongkos 2 yuan. Dan begitu sampai di Dapeng Fortress, aura yang saya rasakan saat menginjak kota tua Jiangmen kembali muncul.

Pada September 1839, sejarah mencatat, lima armada laut Inggris menyerang pasukan pertahanan Dapeng di perairan lepas Kowloon. Tentara China, dengan menggunakan kapal ikan, yang dipimpin Lai Enjue (Zhenwei), dikalahkan musuh yang memiliki armada lebih canggih. Pertempuran di perairan Kowloon tersebut kemudian dikenal luas sebagai pemicu awal Opium War.

Tak lama setelah pertempuran itu meletus, Lai dipromosikan untuk menjadi komandan angkatan laut Guangdong. Di tahun 1844, sebuah rumah besar berukuran 2500 meter persegi dibangun dan di papan yang yang ditaruh di atas gerbang rumah tersebut ditorehkan kalimat: “Rumah Jenderal Zhenwei”.

Rumah tersebut hingga kini masih bisa dilihat utuh di dalam kota benteng dan menjadi daya tarik utama wisatawan yang berkunjung di area ini.

Waktu seperti berhenti di sini. Hanya segelintir orang yang masih mendiami rumah di dalam benteng. Sementara yang lain, memilih berada di luar, membuka toko kelontong yang mengingatkan saya pada deretan warung di kota-kota kecamatan Indonesia di tahun 1980-an, lusuh dan tak terawat. Sementara penjualnya sibuk bermain kartu mahjong dengan tetangga.

Di Jiangmen dan Dapeng, saya memang tak melihat pijar meteor ekonomi China, seperti yang diulas oleh majalah ekonomi dalam dan luar negeri tentang lompatan yang berhasil dibuat negeri tirai bambu tersebut. Namun kepercayaan penduduk tentang pemimpin yang bijak membagi roti, membuat saya takjub.

Ketakjuban yang berlanjut dengan rasa sentimental saat saya menemukan seorang pesepeda jarak jauh bermata sipit mengenakan kaos bertuliskan Jakarta muncul begitu saja di pintu gerbang saat saya hendak meninggalkan lokasi.

Namun kemudian saya mesti menelan kecewa ketika tahu bahwa ia belum pernah ke Indonesia dan sama sekali tak mengenal Jakarta.

Dimuat di Exposure Magazine, Edisi 19, Februari 2010

Written by frsusanti

February 7, 2010 at 1:22 pm

Posted in Travel Story

“Angon” (Causeway Bay, 2009)

with 5 comments

Angon

Written by frsusanti

September 21, 2009 at 11:00 am

Posted in street

untitled (Mong Kok, 2009)

leave a comment »

untitled

Written by frsusanti

September 21, 2009 at 10:55 am

Posted in street

None to accompany me (Causeway Bay, 2008)

with one comment

None to accompany me

I remember a novel of Nadine Gordimer when I decided to put the title for this picture. And also, I remember a lot of memories behind how i could get this novel in my hand. It’s all about loneliness and the strange feelings.

Written by frsusanti

September 21, 2009 at 10:42 am

Posted in street